Taman Kerajaan Karangasem Bali yang Menjadi Area Olah Raga

Berwisata Sambil Berolah Raga di Taman Kerajaan


Taman Soekasada Ujung dibangun pada tahun 1919 pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik ( 1909 – 1945 ) yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dengan melibatkan arsitek Belanda yang bernama van Den Hentz dan seorang arsitek Cina bernama Loto Ang, dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini digunakan sebagai tempat peristirahatan raja selain Taman Tirtagangga, dan juga diperuntukkan sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau kepala pemerintahan asing yang berkunjung ke Istana kerajaan Karangangasem.
.
Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan arkeologis-historis dapat diketahui bahwa taman ini adalah sebuah contoh hasil akulturasi budaya yang serasi antara arsitektur tradisional lokal (Bali) dengan arsitektur Eropa dan Cina. Arsitektur Bali terlihat jelas pada motif dekorasinya berupa cerita-cerita wayang serta motif patra lainnya, arsitektur Belanda terlihat pada bentuk bangunannya yang memiliki gaya indis, dan arsitektur Cina terlihat pada pembuatan gapura masuk, kolam segidelapan, dan Bale Bundar (bale bengong).
Ragam arsitektur bertebaran di Taman Gili. "Campursari" itu terlihat jelas pada bgn pilar- pilar Pilar itu sangat khas Portugis," Pengaruh Eropa lainnya terlihat pada kubah bentuk setengah lingkaran yang memperlihatkan konsep dome meski dalam skala kecil. Kubah ini berbentuk delapan sudut. "Padahal atap bangunan di Bali biasanya terlihat berbentuk empat sudut Selain pengaruh Eropa, sentuhan oriental Cina bisa dilihat pada bentuk jembatan dan puncak angkul-angkul sepanjang jembatan. Bentuknya yang meruncing di ujung dan mirip mahkota diadaptasi dari model struktur bangunan di Cina. Sedangkan atap yang dibangun lebih mirip masjid. "Bisa jadi saat itu beliau memang terpengaruh Timur Tengah," ( keterangan Rumawan Salain )

Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan arkeologis-historis dapat diketahui bahwa taman ini adalah sebuah contoh hasil akulturasi budaya yang serasi antara arsitektur tradisional lokal (Bali) dengan arsitektur Eropa dan Cina. Arsitektur Bali terlihat jelas pada motif dekorasinya berupa cerita-cerita wayang serta motif patra lainnya, arsitektur Belanda terlihat pada bentuk bangunannya yang memiliki gaya indis, dan arsitektur Cina terlihat pada pembuatan gapura masuk, kolam segidelapan, dan Bale Bundar (bale bengong).

Sang pendiri taman, dengan kemampuan teknis- arsitektural,estetik dan kasat mata menggunakan konsepsi kosmologi masyarakat Bali sebagai landasan ideologis, telah berhasil memanfaatkan bentang alam dan lingkungan di sekitarnya yang berteras- teras dengan gunung-gunung sebagai latar belakang alami, sumber air, sungai-sungai danpesisir Pantai Ujung.

Relief-relief Taman Sukasada Ujung, yang ada pada dinding bangunan, pada Pilar, itu menceritakan epos Ramayana dan Mahabharata, seperti kesukaan Djelantik pada sastra," kata Anak Agung. Sistem pertukangan yang digunakan sudah modern, yakni pengecoran serta penggunaaan cetakan untuk membuat relief di dinding bangunan. Ketika itu, cara semacam itu baru dan langka.


posting awal : tamanujung.blogspot.com/

2 komentar:

Posting Komentar